Nai, kekasihku. Sudah bertahun-tahun aku menantimu. Dengan cinta dan kehilangan yang sama. Di bawah pohon ketapang, belakang Sotis yang mewah. Di sunyi pasir dan gemuruh gelombang. Di antara dedaunan kering dan sampah para pengunjung sampah. Aku tidak tahu lagi, kata seperti apa lagi yang harus kurangkai. Rindu seperti apa lagi yang bisa kurajut. Aku telah menelepon ke nomormu yang baru, lama dan sebelum yang lama. Aku juga telah menelepon kakak dan adikmu yang selalu kau ceritakan itu. Cerita tentang kemiripanmu dengan sang kakak yang bijak, dan si adik yang selalu ingin merasa mirip denganmu. Padahal kan tidak. Bahkan, pernah kutelepon bapak kumismu yang sering kupanggil Eksavaldor Dali. Dia yang pernah mengingatkanmu untuk menjauh dariku, sebelum aku menghamilimu. Aku tahu waktu itu kau menjelaskannya dengan baik, kalau aku bukan orang yang seperti itu dan kita memang tidak sedang memadu kasih. Parahnya, mereka semua mengabaikanku. “ Di mana kamu, Nai? “ Aku...
Presiden jomblo
Dari saya untuk siapa saja